Translate

Woensdag 12 Junie 2013

Cerita Ku

Matahari sudah sepenggalah. Aku berjalan setengah menelangkupkan wajah karena meredam sengatannya. Baru beberapa meter menuju gerbang kampus, redup dari kejauhan kulihat bayangan, Deg,, deg,, deg..tiba-tiba jantungku berdetak sangat cepat, aku terhentak dan kukejar bayangan itu. Kukejar tanpa menghiraukan becek menerpa kakiku. Tapi apalah daya,terlalu jauh, tak terjangkau. Ya sudah, aku memandanginya lekat-lekat dari jauh sembari tetap berdebar-debar. Akankah benar dia..Apakah mungkin dia... Oh my God. “ Hey pren, kau tahu cewek yang sedang berjalan itu??” Tunjukku kearah bayangan tersebut saat temanku El lewat disampingku. “Oh itu, iya aku kenal dia. Kenapa?” Jawab El datar. “aku penasaran saja. Siapa dia?” “Itu anak semester kita juga, namanya Dani. Kamu ada urusan dengan dia?” tanya El kemudian. “Oh enggak, hanya barusan melewatiku saja, sampai aku kaget,,hehehe,,” aku nyengir meredam debaran jantungku yang masih tidak karuan. “Oh ya sudah,,aku ke kantin dulu ya, mau ikut cak?” “Oh terimakasih, ana shaum, hehe. Monggo sob!!” jawabku sambil melambai dan berlalu. Tak habis fikir aku karena kejadian barusan. Sampai seharian aku masih terngiang dan terbayang bayangan itu, yang membuat darahku berdesir-desir. Berharap suatu ketika akan kutemui lagi bayangan itu. Saat malam tiba, seperti biasa kutemui rekan-rekan seperjuanganku di warung yang kami dirikan bersama. Alasannya tidak lain adalah belajar mengelola uang. Yah semua orang tahu lah, bagaimana kondisi ekonomi mahasiswa seperti kami. Kadag kantong penuh tapi lebih sering lagi kantong bolong, hehe, atau mahasiswa lebih sering meyebutnya kanker atau kantong kering. Hanya bersama 2 rekan seperjuanganku inilah aku berbagi dan berkeluh kesah selama hidupku di kampus tercinta ini. “Malem cak, maaf nih agak telat. Air agak macet dan kamar mandi antri banget” alah biasa alasan basi anak asrama. “gak apa-apa cak, yang penting yang udah lama kita tunggu-tunggu akhirnya datang juga, yuuk makan cak, kita dah laper banget ni, semua makanan nasi lauk dan tetekbengek-nya sudah siap tinggal santap” , celetuk Asro memegangi perutnya yang sebenarnya agak buncit itu. Segera ku parkir sepeda onthelku dan ku kerubungi santap malam kami. Hemm,,nikmatnya seperti ini. Kebersamaan dalam suka maupun duka, haha walaupun seadanya. “Eh Jon, kamu kan yang paling supel ma cewek, kenal Dani gak?” tanyaku sembari mengunyah. “ehm,,ehm,,Dani siapa rek??” jawab Jono asal. “ Katanya ce anak semesterku juga”, balasku datar saja. “Oh itu, aku gak kenal..hehe” Jono nyengir tak berdosa. “Yeeh..kirain tahu, dasar kamu Jon, awas ya!!” akhirnya kesal juga aku dengan tingkahnya. “Eh,,eh,,ne ribut aja lagi pada makan juga, mang kamu ada-ada ya sama si Dani itu,,hayo ngaku!!”Si Asro malah menimpali. “Gak sih, Cuma penasaran aja!” jawabku menyeringai. “Eling Sob, anak istri dirumah” Asro menasihati gaya mbah Parmin. “Eh iya iya, aku Cuma penasaran aja, gak ada apa-apa, ketemu juga baru tadi, itupun dari jauh, jangan pada sinting ya mikirnya. “ tukasku menjelaskan. Sejurus kemudian ada suara cewek dari luar. Yah, memang warung kami menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari mahasiswa. Plus fotokopi, plus ngeprint, eits,,tapi bukan plus plus tanda kutip itu loh. “Kang, mau ngprint dunk, masih sibuk ya?” tanyanya lembut, khas para bidadari surga, Ceillee,, “Oh iya mbak, saya cuci tangan dulu ya, hehe, maklum lagi pada buka ne, mbaknya duduk aja dulu ya” Si Jono yang paling sigap menyudahi makannya, aku tahu, apalagi alasannya kalau bukan ternyata si mbak konsumen kita itu cantik. Hah,, aku sudah menebaknya. Lalu ku pastikan menoleh kearah si mbak yang duduk di depan warung kami, memang kami sediakan kursi tunggu disana. Maklum berharap customernya ampe bejibun dan antre-antre,,hehe. Sruutttt,,,darahku berdesir lagi, kali ini lebih kencang dari tadi pagi, Ya Allah, tolong hamba, kendalikan diri hamba. Iya benar, itu persis bayangan yang kulihat sayup-sayup tadi pagi. Bberarti itu Dani. Benar Dani atau mungkinkah.....?? Ah Ghufron istighfar Le,, “Ya mbak, mana file yang mau di printkan??” tanya Jono sambil senyum-senyum. Berharap si mbaknya tergoda mungkin, haha dasar Jono. “Ini mas, tugas proposal sekalian covernya ya, saya simpen di new folder. Ini flashdisknya kang!” si mbak itu santai dan tetap lembut menaruh benda kecil bergantung boneka panda imut. Aku tak berpikr panjang lagi, langsung ku cuci tanganku dan duduk mendekati mesin printer. Berlagak membantu Jono mengambilkan hasil printnya, sembari mengintip nama dari pemilik karya tulis tersebut. Duh Gustii,, Benar, namanya An Nisa Ramadani, Semester 6 di jurusan yang sama denganku. Oh Tuhan, bagaimana bisa, sekian lama aku berada di kampus ini, baru 2 hari ini aku bertemu terus-menerus dengan wanita ini. Sudah Ghufron sudah, kendalikan dirimu yang gemetaran itu. Pikiranku menerawang jauh. “Eh cak, sini proposalnya, kok malah bengong sih, mbaknya nugguin loh, nanti aja kalau mau kenalan ya mbak ya!!” gurauan Jono menggoda si mbak itu. Aku tersentak lalu tersenyum penuh malu, kuberikan tumpukan kertas itu, lalu ku geser dudukku mendekat pada Asro. Mungkin tak sengaja dia tersentuh oleh tanganku yang tiba-tiba dingin, dia langsung memandangiku lekat-lekat. “Cak!! Cak!!” panggil Asro menggoyang-goyangkan pundakku. “eh iya As, hehe” aku nyengir menutupi malu, aku khawatir dia memperhatikan kegugupanku dari tadi. “Cak Ghufron gak kenapa-napa kan?? Gak kesihir sama si mbak tadi kan? Hahaha, Cak cak, inget istri cak!” kata –kata Asro menghentakkanku, ku toleh ternyata si mbaknya sudah pergi, berarti aku gugup sudah terlalu lama, Astaghfir,, aku hanya melongo saja. “Cak, pean kenapa?” kali ini tanya Asro bernada serius. “Inget tadi aku menanyakan soal cewek yang namanya Dani?” tanyaku masih agak terbata. “ Iya, kenapa mangnya cak?” “Barusan tadi kubaca cover proposalnya, dan itu dia” jawabku. “Maksudnya itu tadi Dani?” kata Asro memastikan. “Iya,” jawabku singkat. Sepertinya otakku belum pulih nih. “Ceritakan pada kami cak, apa yang terjadi pada cewek itu sebenarnya, kenapa cak Ghufron samapai seperti ini?” tanya Asro beruntun tanda cemas padaku. Sementara Jono masih diam memandangi kami berdua, aku pun bercerita. *** *** “ALI GHUFRON dan NIKMAH ANASTASIA, Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah”. Kubaca ucapan di dalam amplop dari bucket bunga yang diberikan salah satu tamu tadi malam. Hemm,, Amiiinn,,lirihku menyembul senyum. Kupandangi istriku masih terbaring di kasur. Mungkin dia kelelahan karena resepsi semalam. Aku terbangun masih gelap menjelang subuh, karena masih percaya belum percaya. Hah,,,aku menikah,,,ya,,aku menikah, aku menjadi suami. Disaat statusku masih mahasiswa semester V. Mungkin sebagian mahasiswa tidak akan setuju dengan pendapatku ini, tapi entah kenapa, sejak dulu aku telah menginginkan dan mungkin setengah menargetkan, aku menikah saat aku duduk di semester V. Dan hari ini, aku bersyukur, aku sah menjadi S-U-A-M-I, seperti kata pak penghulu kemarin sore. Ku bangunkan istriku dengan kecupan di dahinya, dan benar, dia membuka mata, dan langsung dengan senyum yang sangat hangat menyapaku. “Abi,,,kuk udah bangun?sekarang jam berapa Bi, kayaknya aku baru tidur sebentar,” lirihnya manja. Aku tahu dia sebenarnya masih malas bicara, tapi demi membahagiakan aku, diucapkannya kata-kata itu dengan nada yang aku suka. “Iya sayang, ini sudah hampir subuh, bangun yuk,,kita sholat bareng” jawabku lembut mengimbanginya. Aku ingat guru ngajiku pernah menerangkan bahwa kita harus berlaku baik dan lembut pada istri, sesuai ayat Al Qur’an wa’asyiruuhunna bil ma’ruf.. Aku lupa surat apa. “iya abi,,,” jawabnya sambil mengulas senyum, lalu mencium pipiku. Aku memandangi istriku yang beranjak ke kamar mandi. Dia cantik. Walaupun perkenalan kami tergolong singkat, aku percaya dia istri yang baik, karena dia solihah. Dia juga menyayangiku dan menerimaku apa adanya. Walau aku masih berstatus mahasiswa, sama sepertinya. Jadi, aku tidak ragu untuk menikahinya, menjadikannya bidadari surgaku selamanya. Setelah solat dan berdoa, kuputuskan untuk keluar kamar sebentar. Aku ingin mengecek keadaan rumah dan ibuku. Ah,,, ternyata semua sudah beres dan rapi kembali. Bekas resepsi tadi malam sudah hampir tak terlihat. Ku lihat ibuku sedang berwirid dikamarnya, ah iya, mugkin semua orang akan istirahat hari ini. Lalu aku masuk lagi ke kamarku, kusandingi istriku dan kuceritakan padanya tentang kisah nabi dan istrinya. Kulihat dia sangat antusias mendengarkan setiap kata dari mulutku, dan aku menjadi bersemangat. Ku akhiri ceritaku dengan pelukan mesra dan berterimakasih padanya, telah mau menjadi pendamping hidupku. Aku bahagia. Hari demi hari berlalu, kami semakin dekat dan mengenal sat sama lain. Aku pun semakin sayang padanya. Sampai pada bulan keempat dari pernikahanku, istriku telah mengandung. Ya Allah, Syukron alaik. Terimakasih Tuhan. Ku sujudkan badanku dan ku panjatkan doa padaNya. Hari-hariku semakin indah, walaupun menjalani dua aktifitas penting sekaligus. Pagi-pagi aku harus membantu istriku mengurus anak kami yang baru lahir dua hari ini, setelah matahari agak menegak, aku bergegas ke kampus menunaikan tugas belajarku. Semua ku jalani dengan syukur yang tak terhenti. Karena Allah selalu melimpahkan rizki dan kemudahan di setiap urusanku. Sampai suatu ketika, telepon cellularku berbunyi. “Assalamualaikum!” Sapaku sopan. “Waalaikumsalam cak, ini cak Ghufron Kan?” jawab yang diseberang sana berapi-api. “Iya benar, ini siapa geh?” tanyaku. “Ini cintya cak, adiknya mbak Prila. Inget kan?” Deg, hatiku berdetak aneh, kemudian seperti menahan napas sepersekian detik. Adiknya Prilla, pacarku dulu,atau lebih tepatnya mantan pacar. Aku memang sudah sangat akarab dengan keluarga mereka. Seeemua. Keluargaku pun begitu Kami saling bertandang jika ada kesempatan. Tapi itu dulu. “Oh iya dik, ada apa? Kamu sehat kan disana?” jawabku mencoba mencairkan suasana. “Iya cak, cintya baik, tapi cintya ada perlu ma cak Ghufron ne, sibuk gak?penting nih cak.!!” Katanya beruntun dan memelas. “oh enggak kok, ada kuliah, tapi masih setengah jam lagi, ada apa dik? Apa yang bisa saya bantu mungkin?” jelasku mendewasai. “ini tentang mbak Prilla cak”
Plaas 'n opmerking

Related Posts

Note